Feed on
Posts
comments

Manifestasi Kontemplasi #2
(Antologi Puisi – Vol. 2)

1. Dalam Tubuh Pertiwi

Raut wajah Ibu tak lagi basah oleh gemah ripah loh jinawi
Tangan Ibu tak lagi gemerlap dengan zamrud dari khatulistiwa
Wajahnya kering terpanggang mentari di hari yang bengis
Ditopang tubuh sisa kedzaliman di antara tangis histeris
Diketiaknya orang mengerang kala sakit meradang
Tak ditemuinya juga sejumput tawa di antara ladang
Matanya hanya bisa jadi saksi di tengah drama kehilangan
Kehilangan aroma kejayaan atas sari pati kemerdekaan
Telinganya berdengung mendengar dendang nestapa
Pekik jerit nuansa pedih dari perut sang miskin papa

Meratap hanya bisa meratap
Mengerang hanya bisa mengerang
Tertawa tiada bisa tertawa
Tersenyum pun cuma topeng aksi di balik duka

Kapan kau terakhir berkaca, Ibu?

2. Tunjukan Pada Kami

Tunjukkan pada kami
Arah mana puncak tertinggi di buana
Katakan pada kami
Biar kaki kami menapakinya

Tunjukan pada kami
Jalan mana tempat terpencil di buana
Katakan pada kami
Biar raga kami menjamahinya

Tunjukkan pada kami
Tujuan mana rimba tersunyi di buana
Katakan pada kami
Biar jiwa kami menikmatinya

Aku dengar di utara,
gunung-gunung telah telanjang berdiri
Aku dengar di selatan,
samudera telah marah mendidih
Aku dengar di timur,
mata air tak lagi segar berdesir
Aku dengar di barat,
burung-burung tak terdengar lagi menyanyi

Masih adakah sisi bumi
Tujuan kami melabuh bagi jiwa-jiwa terpanggang asa
Tempat kami mengasah jiwa dihempas badai
Masih adakah, kawan?

3. Masih Ada Yang Lapar

Dingin menyisir malam
Denyut nadi kota menggelepar
Angin memekik tajam
Menekuk hati kala terkapar
Diambang mimpi bergulir kelam
Mereka biarkan dia mengenyam lapar

4. Malam Takbiran

Ketika Tuhan mengganti tirai langit jadi temaram
Bergema alunan sakral gemulai syahdu
Untaian nada takbir menjadi lagu-lagu
Hymne suci bersimfoni bersama pekatnya malam
Ada sendu sedan menyayat hati
Sampaikah lagi kita ke Ramadhan nanti?

Majalengka, 30 September 2008

5. Aku Takut

Pesona dan wangimu membanjiri darahku
di bangunku
Nama dan bayangmu mencuci otakku
di mimpiku
Dari katamu menyapaku
Membiusku
Dari matamu membacaku
Membuaiku

Kehilangan adalah ketakutanku
Dari cara katamu menyapaku
Dari binar matamu membacaku

“Ang!”, Aku takut itu lekang dariku

Majalengka, 1 Oktober 2008

Manifestasi Kontemplasi

Manifestasi Kontemplasi
(Antologi Puisi – Vol. 1)

“Semakin lama dan semakin luas Bahasa Indonesia
kita jadikan medium bagi ekspresi keindahan,
semakin terlihat dan semakin nyata pulalah
sosok ke-Indonesian-an itu…” (Mochtar Pabottingi)

Sekembalinya dari alam perenungan, menelisik ruang-ruang kontemplasi dibalik tirai inspirasi, terhadirkan beberapa cipta. Beranjak dari olah rasa dan olah fikir, megguratkan pena mengais kata, maka terciptalah beberapa puisi/sajak hasil dari pancaran interioritas diri. Boleh dikatakan, inilah “manifestasi kontemplasi” yang sedikit banyak belum “terejawantahkan”.
Selamat Menikmati dan Berkontemplasi….

1. Galeri Senja di Kota Angin

Tirai lembayung kemuning semburat jingga
memajang latar dipunggungi Margatapa
berbadan-badan menopang lazuardi
dibingkai mega dinaungi atap bumi
Jadilah bagai serpihan potret gemah ripah
loh jinawi.

Nyanyian gita tentang saksi suci, kemenangan, dan keagungan
mengiring surya merah temaram di kaki langit
Masih saja pribumi tak lekang dari mimpi duniawi.

Cerita hari jeda tak sampai di sini
hanya dendang tentang rembulan kan berderai panjang.

Kala itu senja di Kota Angin.

2. Parade Musim Cinta

Bunga adalah mekar mentari pagi
Menanam cahaya di tanah remah-remah
Memupuk rasa berbuah asa
Menuai wangi habis ditanam benih janji

Taman-taman adalah parade musim semi
Angin menebar putik untuk jiwa benang sari
Hujan mencurah air menjadikan padang-padang
Pelangi berbelok turun di ujung tepian pematang

Embun bergelora di daun basah mewangi
Sungai cinta berarung menderai delta
Pepasir bergumul menuruni lembah mantra
Seruling bambu menyusul ajak kita bernyanyi

3. Surat dan Bunga

Aku tulis isi surat ini dalam kepala
Karna tak ubahnya rasa jadi bahasa yang terkata

Hanya hening ini bungkam di tengah alunan gita tentang cinta

Aku simpan bunga ini dalam asa
Karna tak ubahnya rasa jadi makna yang tercipta

Hanya syahdu ini muram di tengah alunan gita tentang cita

Biar saja aku tulis surat ini
Biar saja aku simpan bunga ini
Hingga angin menghantarkannya pada ruang hati yang tersisa

Nanti saja aku kirim surat ini
Nanti saja aku beri bunga ini
Kala hujan membumi mengairi taman-taman mimpi

4. Ketika Pagi Datang

Ketika pagi datang, ketika itu pula harapanku menjemputmu.
Ketika malam tiba, ketika itu pula cinta terpendam dalam rasa.
Terlelap dalam mimpi panjang.
Lelah berujung dalam ketakpastian.
Hingga pagi kembali datang, hingga malam kembali tiba,
Harapanku tetap terbenam dalam mimpi panjang.
Mimpi tentang cinta terpendam dalam rasa.
Rasa hati, rasa jiwa, tentang aku padamu.

5. Hingga Malam Biru Kedatangan Jingga

Termangu bertahta cahaya bulan
Dentingan suara malam alunan pelan
Gugusan penghias langit redup temaram
Hawa sunyi merepih malam kelu kelam
Banyak hal mengundang hati menelisik
Kala cinta ditanya hendak ke mana bermuara
Maka cinta tempatkan hati di mana ia bersampan
Menggenggam dayung sempurnakan tujuan
Mengayuh lirih membelah palung samudera terdalam
Menyatukan jiwa hingga tiada makna yang tenggelam

Kurasa malam telah terlalu biru
Menanti waktu mendatangkan jingga
Di alam birunya malam aku mengharu
Mengemas do’a jadi harap tak terhingga
Bahwa kau kan duduk dihadapanku menggenggam dayung
Menemaniku menjadi saksi membelah palung
Kuartikan pada engkau kesanalah cinta hendak bermuara
Hingga malam biru kedatangan jingga tak lagi bersuara

6. Kau Jadikan Aku Sepi

Simpul mati telah kau buka
Melonggar tersulur di tengah langkahku berlari
Dalam lingkar waktu semua yang ada padaku terjerat
Tak dapat kupisahkan di antara siang dan malam yang aku jelajahi

Lentera hati sudah kian nyala
Menunda sepi di atas tanahku berdiri
Dalam detak jantung semua tertanam padaku berderak
Tak dapat kurasakan di antara sadar dan bayang yang aku temui

Kau ajak daku menyentuh bulan mencium wangi cahya gemintang
Sesekali langit menepuk menghantarku menghujam bumi
Tak kau ajak pula bintang menjadi temanku dalam sendiri

Tatkala bulan menyinari temaram menjadikannya  teman
Aku menolak dengan tanganku membuka bahasa
Ternyata hati cuma ingin kau ada bersandar di sini

Mata
Telinga
Hati, menolak sepi.

Malam
Dingin
Sepi, aku mesti sendiri.

Berdatanganlah angin membawa do’a

7. Rindu

Kala raga kita terpatri jutaan hasta
dijembatani karang dan samudera
Kala raga kita terpaut  jutaan hasta
diiringi ombak dan bahtera
Ada intrusi perasaan mengisi relung hati
Menelisik naik menoreh otak kiri
Bergelayut di tiap detik yang dirajut
Dalam kalut aliran rasa ini buatku terhanyut
Malam meniup angin sepi nan syahdu
Membelai dingin mengantar wangi rindu

Kala raga kita terpisah jutaan hasta
Ada rindu

8. Tentang Mimpi

Sesekali kita menaklukan malam
Menghapus dingin dihangatkan canda ceria
Sesekali kita menanti pagi
Merajut mimpi dibuatkan cita cipta

Bolehkan kita sejenak terbang ke langit
Meninggikan tajuk mimpi akan cita yang takkan sirna
Menorehkan janji akan karya esok yang belum tiba

Mimpi dan janji tentang Pulau Dewata, Eiffel, Venice, dan Tanah Suci


9. Tentang Mimpi 2

Mengapa bumi tak berkaca pada langit?
Memanggil kembali mimpi dan janji

Pulau Dewata, Eiffel, Venice, dan Tanah Suci

Masih menggaris  di atas bintang gemintang
Aku tak mau, kita takkan mau mimpi dan janji itu hilang
Diratapi hari tersiratkan bahasa yang terngiang

Mimpi dan janji bersemayam menjadi do’a
Menjadi alas bertumpu pada asa

Pulau Dewata, Eiffel, Venice, dan Tanah Suci

Kita belari di tengah masa
Terengah di bawah atap penantian

10. Untuk Teman dan Yang Ia Nanti

Untuk teman,
Rela berdiri di tepi dermaga dalam nanti
Membayang bahtera berlabuh dalam harap
Sesekali menjatuhkan mata di ujung batas cakrawala
Hanya saja senja tak kunjung jingga di lazuardi
Ia menyiratkan kata :
“Mengapa hari tak ku pahami?”
Hingga yang ada hanya citra kelabu
Belum jua ia mengantongi arti
Sesak saja tersengal dalam kalbu
Tiba gelombang menerjang menjilat dermaga
Tak kuasa ia hanyut terbawa mimpi mendera
Cenderung terbuai tak mau lagi ia terjaga
Derai-derai mimpi tak sanggup buatnya jera
Dalam tenggelam kini ia hanya menyelami yang terdalam
Mengharap malam tak tinggalkan dingin yang kelam
Lalu mengapa yang ia cari dalam nanti masih bergeming
Seperti sembunyi mematung dalam udara hening

Untuk yang ia nanti,
Mengapa tak kau dermakan saja cintamu?

Kontemplasi, Paradoks, dan Ambivalensi

Malam diciptakan untuk hening, menggoda otak ini berbaring di alam perenungan. Berkontemplasi. Lagi-lagi kata itu. Entahlah, akhir-akhir ini aku serasa akrab dengan kata itu. Malam tak hanya menciptakan hening, tapi menciptakan sebuah paradoks dalam untaian waktu di tengah drama kehidupan. Alam perenungan menciptakan benturan-benturan hasrat yang mengendap dalam akal dan jiwa. Benturan hasrat diantara menulis. Menulis ilmiah, menulis sastra, atau menulis apapun yang bisa kujadikan mediasi untuk mengekspresikan perasaan dan pemikiran yang mengintrusi ke dalam otak. Hingga akhirnya benturan-benturan itu saling mengalahkan satu sama lain. Hasrat menulis ilmiah, skripsi, untuk sementara terkalahkan. Untuk beberapa waktu kehilangan daya untuk menulis ilmiah. Padahal itu adalah satu anak tangga kemudian untuk menuju gerbang masa depan.

Entahlah, seperti ada elektrisitas yang menyengat jiwa dan pikiran ini. Sejenak menangguhkan hasrat menulis ilmiah, lalu muncul dengan menggebu-gebu hasrat menulis sastra. Entah rasa malas yang menghinggapi hasrat menulis ilmiah, atau elektrisitas itu yang membangunkan mimpi menulis sastra. Itupun terkadang masih menghadirkan kebingungan. Untuk apa dan demi apa aku mengalahkan hasrat menulis ilmiah lalu memilih untuk mengetengahkan hasrat menulis sastra. Mungkin apakah hanya untuk mengisi kekosongan di tengah rasa malas menulis ilmiah, untuk sekedar aktualisasi diri, meniti mimpi mengejar eksistensi diri, atau ekspresi diri di tengah perasaan yang telah tenggelam demikian dalam? Entah, dari itu semua yang membiarkan timbul ambivalensi. Kebingungan menentukan perasaan yang tengah muncul bersamaan. Ambivalensi ditengah mengais-ngais inspirasi. Untuk saat ini, di mana ada ruang kontemplasi, di situ juga ada dinding bagi terciptanya paradoks dan ambivalensi. Lalu, tinggal kunikmati saja sementara.

Tentang Seseorang

TENTANG SESEORANG

Interioritas atau perasaan-perasaan yang timbul dalam diri terkadang menjadi api menyulut inspirasi. Interioritas bukan saja timbul dengan sendirinya, ada katalis dari faktor-faktor luar, salah satunya bisa saja dari seseorang yang mempengaruhi  kehidupan kita.

Sebegitu berpengaruhkah seseorang bagi kehidupan kita? Bukan hal yang tidak mungkin. Terlebih jika “seseorang” adalah entitas yang bisa menjadi salah satu kepingan dari mozaik kehidupan kita yang dapat mempengaruhi gelombang afeksi. Gelombang ini yang mengendap dalam diri menjadi interioritas. Sebuah entitas  bisa menjadi sumber inspirasi yang pada akhirnya mengantarkan ke dalam relung-relung kontemplasi.

Suasana kontemplasi sering dibarengi dengan daya cipta yang ditransformasikan dalam visualisasi, dalam konteks ini adalah berbentuk tulisan-tulisan. Dalam proses inilah interioritas dicitrakan ke dalam tanda-tanda luar, baik dalam bentuk puisi, sajak, prosa, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, bagi pribadi, interioritas itu seringkali dipengaruhi oleh sosok “seseorang” sebagai entitas yang menjadi sumber inspirasi. Interioritas itu timbul seiring dengan perjalanan kehidupan, penantian hidup, endapan rasa, maupun bioritme yang tercipta atas intrusi perasaan antara pribadi dengan “seseorang” tersebut yang kemudian dipandang sebagai entitas sumber inspirasi (walaupun dalam konteks lain arti “seseorang” ini lebih dari hanya sekedar entitas sumber inspirasi). Kemudian , sentuhan-sentuhan rasa inilah yang mengajak memasuki relung kontemplasi yang pada akhirnya terbentuk sebuah daya cipta yang dimanifestasikan dalam bentuk tulisan, baik itu cerita, puisi, sajak, atau prosa.

Majalengka, 30 Agustus 2008

Mengapa?

MENGAPA AKU DAN PUITISASI?

 

Menulis
untuk menciptakan poetic adequacy sehingga membuat tulisan itu menjadi lebih beraura
adalah serasa pencapaian spiritual dari hasil dramatisasi situasi interioritas
dalam diri. Menemukan atau bahkan menciptakan diksi setelah berkontemplasi
dengan ruang-ruang eksternalitas dan menyatukannya dengan suasana kejiwaan
ibarat menemukan sebuah zamrud di tambang timah. Terlebih lagi diksi itu mampu
menciptakan makna tekstual daripada sebuah makna referensial. Hal inilah yang
menyebabkan sebuah kata memiliki aura tersendiri. Menulis dengan puitisasi
menjadi sebuah mediasi antara atmosfer perasaan internal dalam diri dengan
unsur-unsur kehidupan di sekitar. Berekspresi melalui konstelasi kata-kata
bahkan dapat menjadi salah satu media apresiasi terhadap keindahan atas rahmat
dan kasih-Nya.

 

Mentransformasikan
ide dari inspirasi ke dalam gubahan-gubahan adalah seperti menapaki anak tangga
menuju kepuasan emosional. Mengasah afeksi mempertajam kognisi dalam puitisasi
adalah jalan memperhalus emotional quotion, meninggikan spiritual quotion, dan
memperdalam intellectual quotion.

 

Inspirasi
adalah api yang menyulut obor menerangi celah-celah ruang fikir dalam alam
kontemplasi, lalu dihiasi lentera menjadi sebuah parade kata-kata dalam konteks
kehidupan, cinta, dan perjalanan spiritual. Walaupun akhirnya subjektifitas
keindahan kembali pada masing-masing personal, namun makna akan menjadi sebuah titik
temu di balik subjektifitas keindahan itu. Pada akhirnya, puitisasi melalui
proses berkontemplasi diharapkan dapat menjadi pengantar untuk memaknai
kehidupan itu sendiri.

 

Bandung, 30 Juli
2008

 

Gilang Pramudhita