Manifestasi Kontemplasi
(Antologi Puisi – Vol. 1)
“Semakin lama dan semakin luas Bahasa Indonesia
kita jadikan medium bagi ekspresi keindahan,
semakin terlihat dan semakin nyata pulalah
sosok ke-Indonesian-an itu…” (Mochtar Pabottingi)
Sekembalinya dari alam perenungan, menelisik ruang-ruang kontemplasi dibalik tirai inspirasi, terhadirkan beberapa cipta. Beranjak dari olah rasa dan olah fikir, megguratkan pena mengais kata, maka terciptalah beberapa puisi/sajak hasil dari pancaran interioritas diri. Boleh dikatakan, inilah “manifestasi kontemplasi” yang sedikit banyak belum “terejawantahkan”.
Selamat Menikmati dan Berkontemplasi….
1. Galeri Senja di Kota Angin
Tirai lembayung kemuning semburat jingga
memajang latar dipunggungi Margatapa
berbadan-badan menopang lazuardi
dibingkai mega dinaungi atap bumi
Jadilah bagai serpihan potret gemah ripah
loh jinawi.
Nyanyian gita tentang saksi suci, kemenangan, dan keagungan
mengiring surya merah temaram di kaki langit
Masih saja pribumi tak lekang dari mimpi duniawi.
Cerita hari jeda tak sampai di sini
hanya dendang tentang rembulan kan berderai panjang.
Kala itu senja di Kota Angin.
2. Parade Musim Cinta
Bunga adalah mekar mentari pagi
Menanam cahaya di tanah remah-remah
Memupuk rasa berbuah asa
Menuai wangi habis ditanam benih janji
Taman-taman adalah parade musim semi
Angin menebar putik untuk jiwa benang sari
Hujan mencurah air menjadikan padang-padang
Pelangi berbelok turun di ujung tepian pematang
Embun bergelora di daun basah mewangi
Sungai cinta berarung menderai delta
Pepasir bergumul menuruni lembah mantra
Seruling bambu menyusul ajak kita bernyanyi
3. Surat dan Bunga
Aku tulis isi surat ini dalam kepala
Karna tak ubahnya rasa jadi bahasa yang terkata
Hanya hening ini bungkam di tengah alunan gita tentang cinta
Aku simpan bunga ini dalam asa
Karna tak ubahnya rasa jadi makna yang tercipta
Hanya syahdu ini muram di tengah alunan gita tentang cita
Biar saja aku tulis surat ini
Biar saja aku simpan bunga ini
Hingga angin menghantarkannya pada ruang hati yang tersisa
Nanti saja aku kirim surat ini
Nanti saja aku beri bunga ini
Kala hujan membumi mengairi taman-taman mimpi
4. Ketika Pagi Datang
Ketika pagi datang, ketika itu pula harapanku menjemputmu.
Ketika malam tiba, ketika itu pula cinta terpendam dalam rasa.
Terlelap dalam mimpi panjang.
Lelah berujung dalam ketakpastian.
Hingga pagi kembali datang, hingga malam kembali tiba,
Harapanku tetap terbenam dalam mimpi panjang.
Mimpi tentang cinta terpendam dalam rasa.
Rasa hati, rasa jiwa, tentang aku padamu.
5. Hingga Malam Biru Kedatangan Jingga
Termangu bertahta cahaya bulan
Dentingan suara malam alunan pelan
Gugusan penghias langit redup temaram
Hawa sunyi merepih malam kelu kelam
Banyak hal mengundang hati menelisik
Kala cinta ditanya hendak ke mana bermuara
Maka cinta tempatkan hati di mana ia bersampan
Menggenggam dayung sempurnakan tujuan
Mengayuh lirih membelah palung samudera terdalam
Menyatukan jiwa hingga tiada makna yang tenggelam
Kurasa malam telah terlalu biru
Menanti waktu mendatangkan jingga
Di alam birunya malam aku mengharu
Mengemas do’a jadi harap tak terhingga
Bahwa kau kan duduk dihadapanku menggenggam dayung
Menemaniku menjadi saksi membelah palung
Kuartikan pada engkau kesanalah cinta hendak bermuara
Hingga malam biru kedatangan jingga tak lagi bersuara
6. Kau Jadikan Aku Sepi
Simpul mati telah kau buka
Melonggar tersulur di tengah langkahku berlari
Dalam lingkar waktu semua yang ada padaku terjerat
Tak dapat kupisahkan di antara siang dan malam yang aku jelajahi
Lentera hati sudah kian nyala
Menunda sepi di atas tanahku berdiri
Dalam detak jantung semua tertanam padaku berderak
Tak dapat kurasakan di antara sadar dan bayang yang aku temui
Kau ajak daku menyentuh bulan mencium wangi cahya gemintang
Sesekali langit menepuk menghantarku menghujam bumi
Tak kau ajak pula bintang menjadi temanku dalam sendiri
Tatkala bulan menyinari temaram menjadikannya teman
Aku menolak dengan tanganku membuka bahasa
Ternyata hati cuma ingin kau ada bersandar di sini
Mata
Telinga
Hati, menolak sepi.
Malam
Dingin
Sepi, aku mesti sendiri.
Berdatanganlah angin membawa do’a
7. Rindu
Kala raga kita terpatri jutaan hasta
dijembatani karang dan samudera
Kala raga kita terpaut jutaan hasta
diiringi ombak dan bahtera
Ada intrusi perasaan mengisi relung hati
Menelisik naik menoreh otak kiri
Bergelayut di tiap detik yang dirajut
Dalam kalut aliran rasa ini buatku terhanyut
Malam meniup angin sepi nan syahdu
Membelai dingin mengantar wangi rindu
Kala raga kita terpisah jutaan hasta
Ada rindu
8. Tentang Mimpi
Sesekali kita menaklukan malam
Menghapus dingin dihangatkan canda ceria
Sesekali kita menanti pagi
Merajut mimpi dibuatkan cita cipta
Bolehkan kita sejenak terbang ke langit
Meninggikan tajuk mimpi akan cita yang takkan sirna
Menorehkan janji akan karya esok yang belum tiba
Mimpi dan janji tentang Pulau Dewata, Eiffel, Venice, dan Tanah Suci
9. Tentang Mimpi 2
Mengapa bumi tak berkaca pada langit?
Memanggil kembali mimpi dan janji
Pulau Dewata, Eiffel, Venice, dan Tanah Suci
Masih menggaris di atas bintang gemintang
Aku tak mau, kita takkan mau mimpi dan janji itu hilang
Diratapi hari tersiratkan bahasa yang terngiang
Mimpi dan janji bersemayam menjadi do’a
Menjadi alas bertumpu pada asa
Pulau Dewata, Eiffel, Venice, dan Tanah Suci
Kita belari di tengah masa
Terengah di bawah atap penantian
10. Untuk Teman dan Yang Ia Nanti
Untuk teman,
Rela berdiri di tepi dermaga dalam nanti
Membayang bahtera berlabuh dalam harap
Sesekali menjatuhkan mata di ujung batas cakrawala
Hanya saja senja tak kunjung jingga di lazuardi
Ia menyiratkan kata :
“Mengapa hari tak ku pahami?”
Hingga yang ada hanya citra kelabu
Belum jua ia mengantongi arti
Sesak saja tersengal dalam kalbu
Tiba gelombang menerjang menjilat dermaga
Tak kuasa ia hanyut terbawa mimpi mendera
Cenderung terbuai tak mau lagi ia terjaga
Derai-derai mimpi tak sanggup buatnya jera
Dalam tenggelam kini ia hanya menyelami yang terdalam
Mengharap malam tak tinggalkan dingin yang kelam
Lalu mengapa yang ia cari dalam nanti masih bergeming
Seperti sembunyi mematung dalam udara hening
Untuk yang ia nanti,
Mengapa tak kau dermakan saja cintamu?